Hujan Deras di Sudut Hati
|
Sebuah catatan tentang film “The Act of Killing”.
Seperti dibawa ke sebuah tempat asing di dunia antah-berantah, seekor ikan serupa ikan mas yang besar sekali bertengger di tepi danau, gunung-gunung melatarinya. Gumpalan awan membuat cahaya redup. Seperti di dalam mimpi, perempuan-perempuan jelita dibalut gaun berwarna keemasan keluar dari mulut ikan raksasa yang kusam itu. Katup mulut ikan yang terbuka, membentuk lubang gua yang menganga. Perempuan-perempuan keluar berbaris rapi, menari, seolah meniti di lidah ikan yang panjang dan tipis, yang menjulur jauh membentuk jembatan panjang. Seperti berada dalam dunia khayali, air terjun yang jatuh di latar membentuk kabut tipis, perempuan-perempuan berkemben merah gemerlap dengan rok putih panjang nan lebar dikibarkan. Mereka menari di atas bebatuan di sela semak, sementara seorang berpakaian hitam dan seseorang mengunakan gaun kebiruan mengangkat tangan ke angkasa. Suara orang berteriak-teriak, “Tersenyum bahagia, bahagia, damai, bahagia… Bukan senang, bahagia….. Cut!!…Cut!!!”. Lalu beberapa orang datang membawa handuk, diberikan kepada perempuan-perempuan penari yang telanjang bahu. Memberikan dugaan bahwa adegan barusan adalah sebuah proses pembuatan film. Sebentuk jalan memanjang kusam oleh bangunan yang tampak kotor dan berantakan, menggiring pada dunia nyata yang sehari-hari. Begitulah film dokumenter “The Act of Killing” besutan sutradara Joshua Oppenheimer dimulai. Dengan latar bangun pertokoan yang bercahaya dengan lampu berwarna-warna dan putaran iklan, muncul kalimat-kalimat yang mengantar film ini pada masa sejarah kelam Indonesia di tahun 1965, membuka ingatan akan pembantaian orang-orang partai komunis ataupun yang dituduh komunis serta etnis Cina. Kurang dari satu tahun, lebih dari sejuta orang telah dibunuh dengan cara mengenaskan. Tentara menggunakan semacam Pamswakarsa—pasukan yang dibentuk dari jajaran orang sipil— dan juga para preman untuk menghabisi dan melakukan pembunuhan. Dukungan itu membuat mereka menjadi orang-orang yang memiliki kekuasaan dan keleluasaan untuk melakukan tindakan tersebut. Untuk mengerti apa yang mereka lakukan maka mereka dipersilahkan untuk membuat gambaran dengan cara ungkap apapun yang mereka inginkan.
Memasuki sela pedagang kaki lima. Seorang tua berkemeja hijau berbunga dan celana panjang putih menaiki tangga. Ia lalu memberikan penjelasan bahwa di tempat inilah, dulu, di tahun 1965, menjadi salah satu tempat membunuh anggota PKI. Ia menceritakan bahwa setelah membunuhnya dengan dipukuli, darah membuat mereka repot untuk membersihkannya dan juga baunya tak enak. Karena itu mereka menciptakan cara yang lebih bersih dalam membunuh. Ia pun memperagakan bagaimana cara membunuh dengan seutas kawat. Ujung satu ia lilit ke tiang, orang yang akan dibunuh disuruh duduk di bawahnya, kawat dililitkan pada leher, dan ujung lain yang telah diberi pegangan untuk menarik. Kawat pun ditarik sekuatnya, menunggu hingga ia yang dililit kawat di lehernya itu, tertunduk kepalanya. Menandakan bahwa ia memang sudah mati. Setelah itu ia memperagakan dengan fasih bagaimana menari cha-cha. Atau ketika memperagakan bagaimana seseorang yang lehernya diletakkan di bawah kaki meja—yang digantikan sebuah karung gembung—lalu orang-orang duduk di atasnya sambil menyanyikan lagu “Halo-halo Bandung” dengan gembira dan suka ria dan kemudian memastikan orang yang lehernya digencet kaki meja tersebut memang sudah mati. Memang tak ada yang istimewa pada gambar, semuanya seperti keseharian, benar-benar ruang yang memang setiap hari bisa dilihat dan dirasakan. Dunia nyata. Dunia biasa yang dialami sehari-hari. Tetapi apa yang diceritakan oleh Anwar Congo, pak tua berkemeja hijau tadi, telah menghentak kesadaran, mencokok hati, menggusur perasaan pada ruang gelap yang asing, dan kita berharap itu tak pernah nyata. Seperti dihempas ke dunia lain, tercekam oleh rasa ganjil. Mungkin seperti anak-anak ikan yang menetas dalam kulum induk lalu disemburkan di daratan. Megap-megap berharap bisa bernapas. Tersekap harap untuk lepas bebas. Apapun itu. Kehidupan atau kematian. Begitupun penyajian film ini, antara memperagakan kematian dan kemudian kehidupan sehari-hari. Masuk ke dalam ingatan-ingatan proses pembunuhan, lalu kemudian dilihat lagi. Dibicarakan. Diskusikan. Direnungkan. Disimpulkan. Dan kemudian dipertanyakan lagi. Mencari-cari penyelesaian. Anwar Congo dan kawan-kawan organisasinya, Pemuda Pancasila, ingin mengungkapkan sejarah. Sejarah tentang peristiwa penting di mana mereka berperan saat itu. Mengungkapkan kebenaran yang harusnya tercatat dalam sejarah. Mereka ingin mengungkapkan dan menjelaskannya melalui sebuah film. Film yang menuturkan kisah nyata yang dicampur hasrat dan imajinasi mereka sendiri tentang bagaimana cerita akan disampaikan dan juga bagaimana kelak harus disimpulkan oleh para penonton. Dan film “The Act of Killing” ini merekam prosesnya. Yang juga menyodorkan hal-hal yang sudah jadi pengetahuan umum di negeri ini. Bagaimana orang-orang dicatut uangnya. Pemerasan. Bagaimana para calon wakil rakyat bekerja ketika mencalonkan diri dan mengumpulkan dukungan, bagaimana orang-orang menanggapinya sebagai hal yang biasa dan sehari-hari. Pidato-pidato. Kampanye. Cara pejabat berbicara. Upacara megah Pemuda Pancasila. Koleksi dan sudut-sudut rumah para pejabat dan banyak hal lainnya. Pendeknya, sesuatu yang demikian jelas dan nyata dalam keseharian. Sesuatu yang sudah dianggap biasa. Dengan penuh kesabaran dan tak lelah, film ini menyodorkan bingkai-bingkai gambaran antara yang diperankan dan dibicarakan, berselang-seling antara ingatan tentang cara-cara membunuh dan menginterogasi melalui pemeranan di dalam pembuatan sebuah film dan kehidupan sehari-hari. Tetapi rupanya apa yang dianggap biasa itu, ketika dilihat kembali, ketika berjarak, apa-apa yang begitu terang-benderang itu, kemudian seolah kembali pada kita dengan menghentak kesadaran. Apalagi yang tak biasa, pengakuan-pengakuan yang begitu jelas tentang cara membunuh disertai peragaannya, sungguh membuat terhenyak. Tetapi film ini tidak hanya sekedar menyodorkan horor kekejian. Kita juga diajak untuk melihat dan mengkajinya lagi. Seperti halnya ketika Anwar melihat kembali adegan-adegan yang sudah dibuat. Seolah mengajak kita bersama-sama menghadapi kenyataan dan kebenaran yang ingin diungkapkan itu. Baik pergulatan batin maupun pergulatan pemikiran. Menghadapi secara bersama-sama mimpi buruk yang menghantui dan bagaimana upaya-upaya menyelesaikannya. Bagaimanapun, kita harus berterima kasih kepada keberanian, keterbukaan dan keterus-terangan Anwar Congo, Ady Zulkadry, Herman Koto dan kawan-kawannya. Pada setiap orang yang terlibat di dalam film ini. Karena apa yang mereka ungkapkan telah mulai membuka pintu yang maha berat dan tertutup selama ini. Memicu untuk menguak pengetahuan dan sejarah kelam negeri ini. Jika pun selama ini kekerasan dan kematian yang terjadi pada tahun 1965 itu diketahui hanya sebagai statistik, dan kematian itu hanya menjadi angka-angka. Perkiraan di dalam beberapa tulisan dikatakan sekitar 300.000 hingga 3.000.000 manusia telah jadi korban. Dan oleh mereka ini, oleh film ini, satu angka kematian diceritakan dengan rinci. Didekati dan dilihat dari berbagai sisi. Satu angka dijadikan manusia. Ia yang satu itu kemudian jadi memiliki nilai dan makna. Ia yang satu itu sanggup mencabuk perasaan. Maka bagaimanapun angka-angka dalam statistik itu berubah. Setiap satu dari angka itu tumbuh menjadi manusia. Ia menjadi kita. Menjadi tubuh. Menjadi seperti diri kita sekarang ini. Jika pun selama ini kita bersimpati pada korban, dan berusaha mencari-cari pengetahuan dari sisi mereka, film ini dengan jeli mengambil sisi si “pemenang”, dari sudut pandang pengetahuan yang menciptakan korban. Seperti yang dikatakan oleh Adi Zulkadry, di dalam film itu, bahwa sejarah ditulis oleh para pemenang. Karena, ya benar, mereka yang kalah apalagi yang mati tak kuasa melakukannya. Sebuah peristiwa akan jauh lebih jelas oleh saksi mata, ia yang melihat dan mengetahuinya. Film ini tidak hanya menyodorkan sosok pelaku kekejian, yang seringnya, digambarkan penuh kebrutalan dan ekspresi haus darah. Ia juga menunjukkan sisi penuh kasih sayang. Pada Anwar Congo, misalnya, ia mengajari cucu-cucunya untuk meminta maaf pada anak bebek yang terluka akibat dipukul oleh cucunya. Film ini menggambarkan juga proses Anwar menghadapi pembunuhan yang dia lakukan, ketika melihat kembali adegan. Ketika ia berjarak, dari pelaku menjadi penonton. Anwar membuat penilaian atas adegan tersebut. Tampak kegelisahan, rasa bersalah, bertanya-tanya, upaya berdamai, dan juga pembenaran-pembenaran atasnya. Hingga kemudian, ketika Anwar mengulang adegan yang disodorkan di awal film. Kembali ke lokasi di mana dia memperagakan kerja jerat kawat pertama kali. Anwar tampak tak sanggup. Ia muntah-muntah. Terbata-bata. Ia tampak penuh penyesalan. Ia menangis. Ia kelihatannya memilki persoalan yang sangat berat dalam dirinya. Ia butuh pertolongan. Luka besar dalam dirinya yang ia pikul seolah harus ia selesaikan sendirian. Dan ada berpuluh, beratus, atau ribuan Anwar lainnya di bumi Indonesia ini. Mereka yang melakukan hal kurang lebih sama pada tahun 1965 itu. Luka yang tak pernah disadari sebagai luka, mungkin tak akan pernah diobati. Ia bisa saja sembuh atau menjadi luka yang lebih besar, membusuk, dan membawa kematian. Dan ada jutaan luka pada orang-orang di negeri ini. Ia, si korban dan keluarganya. Juga ia si pencipta korban dan keluarganya. Dan juga kita, seluruh yang mengetahui ataupun yang tidak mengetahui hal ini. Ya, bangsa ini butuh pertolongan. Agar luka bersama yang selama ini terus menerus ditutupi, bisa disembuhkan. Film ini salah satu upaya membuka luka ini. Mungkin tak mudah dan sangat menyakitkan sekaligus menakutkan, tetapi bagaimanapun harus dihadapi. Film ini telah menawari kita agar kita punya kesanggupan dan keberanian untuk melihat, mengkaji, dan kemudian menyembuhkannya bersama-sama, bukan sendiri-sendiri. Dan dengan penuh imajinasi Anwar Congo mencipta adegan pembebasan diri yang indah: Air terjun yang jatuh mengambangkan kabut tipis. Dua orang yang tampak begitu kuyu dan menderita, melepaskan kalung kawat yang menggantung di lehernya. Salah satunya kemudian mengeluarkan medali dan mengalungkannya ke leher Anwar Congo. Sambil menjabat tangannya, ia mengucapkan terima kasih karena eksekusi atas dirinya telah mengirimkannya ke surga. Dan para bidadari masih juga menari gemulai di titian lidah ikan raksasa yang menjulur tipis. Anwar Congo dengan jas dan bertopi koboi, juga Herman Koto yang bergaun, tengah menari gembira bersama para bidadari itu. Awan kelabu menggumpal di atas danau luas, menutupi sebagian jajaran pegunungan yang mengitarinya. Suara samar guntur bergemuruh. Sementara di kejauhan hujan tampak turun begitu derasnya.
Titarubi
|


Thank you, Titarubi, for this beautiful review. You have made me cry.
dari tadi udah baca, putar yutubnya dan sana sini cari berita tentang si sutradara (makasih Joshua Oppenheimer
) dan si jagalnya…tapi masih gak bisa ngomong….tiba-tiba menjadi terlalu banyak bayangan yang muncul dan menjadikan konstruksi bayanganku sendiri atas bangsa ini semakin jelas, sekaligus semakin membuatku tahu jika kita menghadapi kegelapan. nuhun ta
Keren abissss!
Udah baca dari kemaren-kemaren…review yang bernas dan cergas… even setelah baca review ini aku tetap gak mau nonton film-nya apalagi kalo nonton sendiri… Thanks untuk keberanian-nya menonton dan mereview film ini sehingga memberikan informasi yang cukup utuh wlw tanpa nonton film-nya… pastinya proses nonton dan review yang dilakukan Titarubi melalui perihnya sayatan-sayatan dari pemahaman terhadap fakta yang selama ini tidak diketahui banyak orang. Bravo Tita!